Sabtu, 29 Oktober 2016

Tentang "Pekerja"

"Berada pada kondisi nyaman tak selalu menyamankan"
 
Langit pagi mulai terlihat selalu mendung, udara semilir terasa lebih dingin dan kemunculan sengat mentari terbatas di jam 12 hingga jam 2 siang. Is it Winter?
 
Alhamdulilah, Minggu berganti dan terus dengan semangat baru dari para teman dan senior yang selalu memberi nasehat serta ilmu baru saat bertemu. Dengan kondisi pekerjaan semakin setabil, organisasi semakin solid dan masyarakat Indonesia di Hong Kong yang semakin sadar dengan pentingnya mengelola keuangan (Ini terlalu formal kayaknya).
 
Setelah beberapa Minggu terlalu sibuk yang benar-benar sibuk dengan urusan rutinitas. Minggu ini begitu ingin memanjakan diri. Kaget dengan rasa sedihnya Ibu karena aku ngilang beberapa hari. Padahal juga aktif di faebook dan instagram. Sampai di akhir telepon Ibu nangis, katanya masih kangen suara anaknya. Jika sudah begini, kayaknya lucu kalau beliau sering di telepon. "Ono opo Nak? kok sering telpon. Ibu jek repot. Sesok telpon maneh ya."
 
Sempat pada kondisi layaknya anak kecil, dimana sering off akun media sosial. Hanya untuk melegakan hati dan pikiran. Dan menghadapi kenyataan bahwa hidup itu ya disini, Nyatanya tubuh dan elemen kehidupan adalah berada pada jarak tempuh 4 jam dari Jakarta menuju Hong Kong dengan masapai pesawat Garuda.
 
Dengan mengalami peristiwa kaget oleh sikap Ibu. Kecintaan seorang Ibu itu lebih besar dari kecintaan anak kepadanya.
 
Sesibuk apapun beliau, dengan segala rutinitasnya ada anak yang selalu dalam benak dan doa. Mungkin sudah biasa bagi orang lain. Namun dengan kondisiku yang sering berpisah dengan Ibu yang super sibuk di masa mudanya. Saat ini adalah pengingat untukku tentang cinta yang lebih tulus yang Allah Ta'ala tunjukkan kepadaku.
 
***
 
Mengingat kembali pada masa kejenuhanku kepada rutinitas kerja di sebuah perkantoran. Terkadang ada rindu untuk menikmatinya. Bukan soal kenyamanannya yang terlihat begitu santai, dating sesuai jadwal, pulang melebihi jam terhitung lembur. Bukan pada poin itu, melainkan pada saat semangat membara untuk menyelesaikan laporan hingga menyiapkan berkas akreditasi. Yang waktu itu aku dan tim harus tidur di kantor bahkan saat bulan Ramadhan.
 
Disinipun aku sering tidur pada jam menjelang pagi untuk menyelesaikan tugas di luar pekerjaan pokok. Namun harus menyelesaikan sendiri. Dan kadang, aku mencari teman begadang walau hanya ditemani melalui media sosial seperti whatsapp, ataupun messenger.
 
Terasa sekali perbedaan dan kerinduan jiwa seorang pekerja.
 
***
 
2017 tinggal hitungan minggu. Besok memasuki bulan Nopember 2016. Cukup singkat jika diingat kembali waktu yang terlewati disini.
 
Dan... Ibu dengan entengnya menanyakan,"Kurang 3 bulan lagi ya Nak, kamu pulang?" Ini itu rasanya kok aku yang terlalu salah menyampaikan kepulangan. Apa malah Ibu yang sangat berat rindunya kepadaku? Tsaaaah. Padahal masih lebih dari itu kepulanganku.
 
Pengelolahan usaha dirumah seutuhnya dikendalikan oleh Ibu. Jika ada kesulitan, aku bertindak sebagai penasehat yang kadang juga harus siap dengan penolakannya.
 
Kembali lagi pada kesiapan pada mental diri. Pekerja dan seorang pimpinan adalah sebuah sikap yang harus terus dipelajari dan selalu berkesinambungan satu dengan lainnya. Jika suatu pekerjaan menjadikan diri sebagai pekerja, maka pimpinan adalah pada diri. Jika pimpinan menjadi suatu jati diri, maka pekerja (an) menjadi prestasi.
 
Pict: Jejak langkah di Autumn mid Festival. Victoria Park - Hong Kong.
 
 

Selasa, 04 Oktober 2016

Waktu (4 thn)

"Kesiapan diri untuk suatu tujuan dibuktikan dengan tindakan serius yang nyata"

Semenjak memutuskan untuk merantau dan melewati awal usia dua puluh di Hong Kong. Beberapa hal penting dalam keluarga tak bisa menikmati langsung prosesnya.
Terkadang ada salah paham sederhana, yang dibicarakan melalui telephon bisa terselesaikan. Ada peristiwa yang sangat tak terduga juga hadir. Seperti saat ibu jatuh, terluka. Membuat panik tak terhingga. Dan rasanya waktu itu ingin pulang segera.

Peristiwa itu mengingatkanku pada  Mas Har, "Kamu yakin bisa menetap tinggal jauh dengan Ibu dan Bapak? Jika terjadi hal yang tak kamu inginkan. Pasti panik , sedangkan kamu belum tentu bisa segera hadir untuk mereka."
Yups, kepanikan itu sudah dua kali aku alami. Memang rasanya lebih sulit dari bertahan hidup sendiri disini. Jika hari berganti, hal kemarin akan terlupakan. Tapi tidak berlaku saat orang tercinta terluka, dan diri tak hadir disampingnya. Perih.

Komunikasi dengan keluarga, hal wajib. Mereka selalu menanyakan kegiatanku. Yang utama adalah, "Nurma sibuk banget ya di hari Minggu?, kenapa jarang telpon?"
Ada kesedihan dimana hari Minggu keluarga menikmati libur dan ingin berbicara banyak hal. Sedangkan aku memiliki jadwal padat.

Rasa ini akan menjadi suatu cerita pengalaman di hari selanjutnya. Kegiatan menjadi volunteer di beberapa organisasi membuatku belajar menerima dan mengatasi komplain. Bahkan di tempat magang tak jauh beda. Lucu sih rasanya, pahit-pahit sedih gitu. Tapi cukup membuat otak ini bekerja lebih  jernih lagi. Dan gak cengeng. Hhhhi
Sejak berada disini selama 8 bulan aku memutuskan untuk melanjutkan study. 4 bulan kemudian mengikuti organisasi sekolah. 6 bulan kemudian masuk organisasi nasional yang membuka cabang di Hong Kong. Selanjutnya, 6 bulan kemudian magang di kedutaan Indonesia.

Disinilah titik adrenaline terpacu lebih dari apa yang terjadi saat di tanah air. Bekerja keras memang sudah menjadi kebiasaan.
Diluar dugaan pastinya. Dibuat sederhana bisa, belajar oke, uji kemampuan apalagi.
Dimana kagiatan tersebut disini menyita strategi. Hingga Minggu adalah jadwal terpadat yang aku alami. Bahkan, setiap jam yang direncanakan harus matang 3-4 hari sebelumnya. Membagi tugas tiap minggu untuk organisasi dan bekerja, senin hingga rabu bisa untuk organisasi. Kamis hingga sabtu, full kerja.

Apa yang aku lakukan belum maksimal, dimana semua peran tak bisa maksimal di tiap masing bagian. Hingga terbesit, "Apa harus aku lepas semua amanah ini?". Namun jika dipikir ulang, ingat sebuah kata mutiara,"berbuat baiklah sebanyak mungkin. Karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan membawa ke Syurga."

Sudah pernah kehilangan satu amanah. Yang itu tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Memang bukan sebuah hal aneh, karena pada saat itu aku menerima amanah sama yang mungkin bertolak belakang dengan amanah lainnya.

Berada pada posisi berseberangan membuatku berdiri pada keadaan bimbang. Posisi manakah yang harus aku lanjutkan?. Terkadang ingin acuh, lakukan saja semampu saat ini. Toh bukan suatu pekerjaan yang utama.

Dalam menjalaninya aku selalu mempunyai teman yang siap aku serbu pertanyaan. Apapun itu. Tentang informasi negara, organisasi, hingga baiknya aku melangkah di bagian mana?. Mereka adalah terbaik.

Empat tahun berlalu. Saatnya mempersiapkan langkah kemana- dimana - apa selanjutnya. Ada teman berkata sebelum aku berangkat, "Orang yang sudah betah di luar negeri, pasti setelah pulang akan ke luar negeri lagi." Yups, dulu aku menyangkalnya. Dengan segala kesempatan yang ada, aku mulai setuju dengan kata itu. Akankah aku tak pantang menyerah untuk langkah itu? Dengan cara yang lebih menantang?

Ya, empat tahun dengan tambahnya usia. Keluarga mulai menanyakan "sudah siap menikah?". Padahal dua tahun lalu, di tolak halus jika ingin menikah muda. Lucu, dan lagi pahit-pahit sedih. Ternyata aku dihadapkan pada pemikiran ini. Dan... kesiapan untuk menikah adalah hal yang masih aku ungkapkan "takut". 
 
Menunggu, kesabaran yang utama. Jika suatu saat sang pangeran tiba. Akan ada janji sehidup sesurga, bayar semua waktu yang terlewati sendiri ini dengan kebersamaannya.
"Istri sholeha yang dijamin masuk melalui 8 pintu surga" ini adalah tujuan hidup utama seorang wanita. 
Semangat menikmati waktu muda. Hai, Hong Kong!!! 4 tahun aku hidup disini. Negara dengan lautnya tak pernah sepi. Bertemunya budaya timur dengan barat. Perusahaan internasional dengan berbagai warga negara bekerja di dalamnya. Tak pernah sepi dari mainland, hingga kehidupan tunawisma yang jelas ada. Empat musim yang cukup bersahabat. Dan tempat mendaki ter-enak yang pernah ada.

Em koi sai
Autumn, 4 Oct 2016


Jumat, 02 September 2016

My Autumn

September

Hujan mulai rajin membasahi bumi, menyirami pohon kehidupan dengan keberhan dari sang pencipta. Memasuki musim Autumn di daratan Hong Kong.
Rintiknya bisa aku nikmati sejenak tanpa payung penghalang. Dengan tetesan mungil membasahi wajah sekaligus menatap mendung, rileksasi alami yang membuat tersenyum. Setelahnya aku bisa melihat awan putih tipis berjalan di luasanya langit biru.

Itulah suasana terindah setelah hujan. Langit cerah bahkan terkadang ada pelangi.

September ke4. 2016 adalah tahun ke empat aku disini. Alhamdulillah, banyak hal terselesaikan yang terpenting adalah target utama tuntas. Seperti yang tertulis di buku antalogi "Langkah menjemput sukses". Membaca kembali tulisan-tulisan yang telah usang, membuat ingatan kembali pada masa itu.

Koreksi diri menjadi renungan malam ini. Ibu, sosok peri di dunia yang kumiliki. Menjadi motivator untukku berusaha lebih baik. Yups, setiap orang punya misi tersendiri dalam hidupnya.

Belajar banyak disini. Semakin memahami bahwa dunia ini layaknya perantauan. Sejenak. Jika lalai, aku akan pulang tanpa bekal. Bukan hanya materi, kedewasaan, kesiapan kembali ke rumah. Menorehkan kebahagiaan kepada mereka yang tersayang yang setia menungguku pulang, my family.

Empat tahun. Semakin dewasakah aku?
"Ngambek-an"? Tetep. Tapi gak separah pas di rumah.
Ingat sekali waktu kerja di tanah air. Tiap pagi selalu berangkat dengan hati ngambek karena hal sepele, dengan naik motor bebek. Jadi pembalap kampung. Yang di setiap salah satu tikungan jalan raya jatuh, kepleset oleh pasir jalan. Bukan khawatir lecet, cuma seragam kerja sudah terkenal. Khawatirnya di laporin ke atasan rumah sakit. Kejadian ini bukan sekali-dua kali. Hampir setiap hari. Parahnya, astaghfirullah...
Balapannya berhenti saat sepeda tersebut berganti Matic. Karena penggantinya bersumber dari ibu. Aku gak berani, karena sepeda bebeknya murni hasil keringat sendiri.
Sejak saat itu, ada rasa gak nyaman jika masih egois atau minta sama orang tua. Ya, walau ibu bilang masih anak kecil di usia 18thn.

Waktu SMK juga lebih parah. Karena ibu telat jemput hingga maghrib (sekolah siang), bisa berani jalan sendiri sejauh 5 km. Anak kecil banget.

Dari beberapa teman yang sudah kenal 3 tahun lebih, mereka bilang aku masih suka 'ngambek'. Ini adalah sifat yang sudah mulai bisa aku kendalikan.
Masih terus berusaha dengan ini. Karena sudah mengenal keburukan diri, harus bisa mengimbangi dengan terus belajar tidak membuatnya berlebihan.

Setiap diri mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Dengan mengenali itu, maka diri akan lebih siap memghadapi lingkungannya. Masih dengan September ke 4 di Hong Kong, terimakasih untuk kalian yang telah sabar membersamai Nurma, terutama Ibu ❤️.


Jumat, 12 Agustus 2016

Kesempatan terbaru

Sudah menjelang jam 1 pagi. Dengan kipas angin menyala tak seperti malam kemarin ataupun beberapa malam yang berlalu. Jendela kamar dengan berhadapan langsung pada gedung tinggi di sebelah flat. Gelap arah mata memandang, bukan melamun. Namun mencoba mengamati lampu dari ujung sana.
Mengingat keindahan nyala lampu pemukiman di wilayah lereng pegunungan pada malam hari. Menatap kagum dari balik jendela bis malam antar kota. Romantis bukan?
Beberapa jam lalu aku bertemu dengan teman lama, lama tak jumpa dan selalu ada cerita seru saat bertemu. Ia berasal dari Filiphina, dengan agama Nasraninya yang kuat.
Cerita di mulai dari rencana setelah selesai masa kerjanya di Hong Kong.  Berbekal informasi dan persiapan cukup matang, Ia memutuskan untuk bekerja di Macau. Salah satu yang ia inginkan adalah jam kerja yang fleksible, karena dengan jam kerja tersebut Ia bisa mengajar di salah satu gereja disana. Selain itu, Ia ingin bisa mengajak anak semata wayangnya tinggal beberapa bulan di Macau.
Seperti yang ada dalam pikiranku, bahwa hal baru yang baik harus segera dimulai. Mungkin itu juga berlaku bagi temanku ini. Dengan keputusannya yang penuh resiko, karena ia akan bekerja di Negara yang minim perlindungan terhadap pekerja asing. Namun tekad dan keyakinannya sudah utuh.
Satu yang aku patut contoh darinya, ilmu agama. Ia terus mempelajari kitabnya, dari ini aku selalu termotivasi. “Keimanan itu bertambah dengan belajar agama, sudah mengetahui Islam adalah agama yang hak. Masih malas-malasan dibanding Ia yang Non-Muslim?”
 
***
Waktu terus berjalan. Keinginan akan semakin berubah sesuai situasi dan kondisi. Dan rencana patut ditentukan lebih awal.
Alhamdulillah hingga saat ini ada kemungkinan terbaik dari keputusanku, pada bulan februari aku masih ingin secepatnya pulang. Ya, karena target kepulangan di tahun 2016 harus terlaksana. Namun, qodratullah aku harus bertahan hingga tahun depan. Ada beberapa alasan, yang terbaru adalah untuk memperbaiki data dokumen perjalanan serta dokumen tinggalku.
Dari beberapa informasi yang ku dapat, ada kemudahan untuk menyelesaikan perbaikannya disini daripada di Indonesia. Ya, karena terbayang bagaimana kerumitan disana, maka akan kucoba menyelesaikannya disini.
Sampai saat ini, aku masih berusaha mendapatkan informasi terbaik. Semoga ada kemudahan hingga semua telah benar dan sesuai. Aamiin
 

Antrian menunggu Bis malam di Tai O menuju Hong Kong

Rabu, 20 Juli 2016

Berbagi berbalas kebahagiaan

Setiap proses adalah menakjubkan.
Kesempatan atas hal baru selalu ingin aku manfaatkan. Bagaimana menyibukkan diri sekaligus memberi manfaat kepada sekitar.

Alhamdulillah, 5 bulan terhitung sejak awal promosi hingga saat ini. Terimakasih atas kepercayaan kalian. Dari orang yang belum--baru hingga sudah mengenal siapa Nurma.

Buku "Agenda Muslimah". Dengan desain sampul cantik dan berisi berbagai macam manfaat. Sejak awal melihatnya aku sudah jatuh cinta. Dengan itu, aku ingin bukan hanya aku saja yang menerima manfaat dari kemudahan dalam mengatur jadwal atau bahkan target saat ini hingga jangka panjang dalam buku agenda ini.

Bukankah ilmu akan hilang, kebutuhan akan menjadi angan jika hanya dipikirkan tanpa ditulis?
Ya. Atas dasar itu salah satunya. Maka tidak ada alasan untuk tidak memulai menawarkan produk tersebut.

Sudah puluhan buku telah terjual. Sebagai catatan pribadi, kado kepada sahabat hingga keluarga. Tentu saja bahagia telah ikut andil dalam kebahagiaan yang tersirat dari wajah para teman-teman yang telah membelinya.

📚Agenda Muslimah sendiri merupakan buku yang di desain apik. Terdiri dari:
➡️ Halaman Pembuka,
⏭ biodata, rencana tahunan, jadwal rutin, kalender (2016-2017), kalender wanita.

➡️ Halaman Rencana Bulanan,
⏭ pembatas bulanan, etika Muslim sehari-hari, Rencana bulanan.

➡️ Halaman Rencana Harian,
⏭ pembatas harian, etika Muslim sehari-hari, renana harian dan pojok Muhasabah.

***
Setelah memiliki Agenda Muslimah ini, aku merekomendasikan kepada teman terdekat. Yups, tujuannya agar semakin rapih jadwal serta terselesaikan dengan tepat waktu. Misal, target sholat tepat waktu; bangun di sepertiga malam; target khatam al Qur'an dan artinya.

Berbagi itu menyenangkan. Aku bukan salah satu contoh sempurna, namun kebahagiaan ikut hadir di dalam hatiku secara nyata. Kalian suka berbagi bukan?

Yuk... Terus mencoba hal positif dalam usia muda ini. In shaa Alloh membawa diri lebih siap dengan tantangan baru di hidup tua kelak. 😊

Oh ya, jangan di bayangkan untung di materinya. Dari awal memang tujuan utamanya sebagai sarana asah ilmu serta tambah pahala. Jadi... apapun jika Lillah akan hadir rejeki lebih (kebahagiaan itu gak bisa di beli).

Minggu, 10 Juli 2016

Memori untuk waktu

MF winter 2014 - time files 
Untuk hidup yang tak melulu soal cinta. Namun setiap hal yang dilakukan berlandaskan cinta, utama cinta kepada Tuhannya. Apakah masih ada yang meragukan kehadiran cinta?

Merasa kehilangan itu pasti saat tak jumpa menjadi hal baru. Dengan keadaan ini, ada sekelumit rasa untuk diobati. Bukan dibiarkan menjadi kerinduan dalam diam.

Minggu, 10 Juli 2016.
Terik mentari hari ini tak menghalangi meriahnya hari Raya 1437H di Hong Kong. Taman Lai Chi Kok Park - Mei Foo terlihat ramai dengan para Muslimah yang bersiap untuk merayakan hari besar umat Islam. 

Taman luas ini menjadi tujuan berkumpul dari sebagian orang Indonesia, selain Victoria Park - Causeway Bay. Sejak pagi mereka sudah mencari spot nyaman untuk berkumpul dan menjamu teman yang hadir. 

Layaknya lebaran di Indonesia. Para muslimah berpakaian terbaik, terbaru dan anggun. Hidangan khas raya pun tersedia lengkap. Kue hingga lontong sayur.

***
IMSA memilih spot di bukit rumput sekitar tenda putih Lai Chi Kok Park. Sejak jam 10 a.m para anggota bersiap di tempat dan mengkomunikasikan kepada anggota yang akan bergabung.

Dari MTR Exit A atau exit D bisa menjadi jalan keluar menuju tempat yang dituju. Melalui exit D akan terasa atmosfer lebaran sejak pintu keluar stasiun. Dengan berkumpulnya puluhan muslimah dengan menata alas serta perlengkapnya. Indonesia sekali.

Melalui exit A dengan jalur melewati apartment, lebih dekat namun uforianya sedikit berbeda. Karena agak sedikit sepi dari jalan exit D.

***
Saat berkumpul sudah tersedia berbagai hidangan khas. Ada satu hidangan yang menurutku istimewa yaitu empek-empek buatan Kak Cicih. Tak luput pertanyaan dan penjelasan tentang resep pembuatannya dari teman-teman yang hadir. Ada yang baru pertama kali menikmati masakan ini dan menjadi moment 'firstime'.

Berkumpul dengan seluruh keluarga IMSA, pasti ada pertanyaan "Dimana si Fulana?" Karena telat ataupun membagi jadwal untuk kunjungan ke tempat lain.

Saat pertanyaan itu muncul, ada seorang yang hatiku mencari namun otakku menahan tuk mengungkapkan.

Dia adalah Kak Ning. Minggu lalu ia telah meninggalkan Hong Kong. Mungkin bagi semuanya ini merupakan fase normal saat setiap orang datang dan pergi. Tapi kedekatan kita yang membuat berbeda, walau setiap hari komunikasi melalui kecanggihan yang ada. Munculnya rindu tetap hadir. 

Tenang... Ia sudah menikmati kebahagiaan bersama keluarga dan memulai hidup terbahagianya.

Setiap orang baik akan bersama orang baik, didoakan terbaik dan mendapat ganti baik. 

***
Hari spesial bersama orang-orang istimewa menikmati sajian terspesial. 

Durian. Buah yang disukai juga tidak disukai. Hari ini aku juga menemukan partner istimewa yang menyukai durian. Setiap orang yang sama tentang durian, itu menjadi hal terindah. Karena sulit menemukan orang yang sama, di musim durian banyak terjual di Wellcome Market. Ya, setelah mendapatkan dua hal spesial tersebut. Menikmati duriannya harus berada sedikit menjauh dari teman yang tidak menyukainya. Karena aromanya pun akan mengganggu.

Alhamdulillah, anggota IMSA banyak yang menyukainya. Hingga satu buah durian tak cukup untuk setiap orang. In shaa Allah next time lanjut dengan kebersamaan ini.

Syawal

Senin, 20 Juni 2016

Di Hong Kong


"Merantaulah... Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)." Imam Syafi'i

Ramadhan puasa ke-16, dengan cuaca cerah serta udara sedikit panas. Alhamdulillah, purnamapun nampak sejak kemarin. Ini Ramadhan ke-3 yang ingin benar-benar ku nikmati disini, cita-cita untuk segera pulang ke tanah air menjadi salah satu sebab.

Minggu, 19 Juni 2016. Setelah menyelesaikan tugas magang di kedutaan, ada kesempatan langkah yang harus diambil. Bertemu dengan seorang penulis berita di media nasional. Ia berkunjung ke Hong Kong bersama pejabat pariwisata Indonesia.

Dengan tujuan menggali ilmu dari dia, dan berakhir pada keakraban diantara orang-orang "asyik" yang sudah lama ku kenal.

Ya, mereka adalah para pemimpin muda yang berhasil membagikan ilmu serta kebaikan dalam diri untuk lingkungan sekitarnya.

Merantau adalah keputusan masing-masing dari kita berenam. Dari lama menikmati prosesnya ada banyak cerita. Ini akan menjadi bekal untuk aku bagikan ke anak-anak desa.

Aku selalu merasa bangga kepada mereka yang mau mengabdikan diri berbagi, mengajar di desa-desa. Karena memang itulah yang aku butuhkan saat tinggal di desa wilayah Kabupaten Malang.

Kesempatan anak desa untuk di ajari lebih dari buku tulis, menambah wawasan dunia luas, serta motivasi seorang untuk dijadikan panutan. Itu semua akan sangat berharga di dalam kelas-kelas sekolah dasar pedesaan.

Pendidikan bukan melulu soal abjad dan angka, kepemimpinan serta panutan perlu diberikan.

Anak desa kini telah bertransformasi menjadi pemuda gaya metropolitan,
Tanpa pemahaman jelas manfaat sebuah kemajuan,
Gamang
Melangkah layaknya bos,
Hati serta iman ciut keropos,
Wahai jaman yang terus terasa gusar,
Siapkan para pengajar untuk generasi agar tak suram.
(Sai Wan Ho - Hong Kong)

Jangan lupa bersyukur hari ini. Inginku terus bisa mencari ilmu dari kalian yang tak membedakan orang. Terus menjadi inspirasi untuk siapapun.
(Mas Arief-Mas Wahyu-Alfath-Mbak Lita-Mounda)
Barakallahu fiykum.

Terimakasih untuk waktu dan kesempatan berbaginya. Untuk setiap moment yang Allah Ta'ala beri.

(Choi hung-New Teritoris "blue sky")